Monthly Archives: June 2010

Lagi: Inspirasi Pergaulan Ikhwan dan Akhwat-1

hantu merah jambu

hantu merah jambu

Jika Kau Tak Ingin Patah Hati,

Jika Kau Ingin Cinta Sejati,

Pastikan Kau Selalu Bersama Ridho Illahi,,,,

Inilah kesimpulan saya setelah membaca tuntas buku Laa Tahzan for Broken Hearted Muslimah, sebuah buku yang merupakan kompilasi apik berisi tentang pengalaman muslimah dari penjuru nusantara tentang kisah patah hatinya terhadap makhluk bernama laki-laki dan hikmah yang mereka jadikan pijakan hidup untuk meraih cinta Allah yang pasti. Kompilernya (maksudnya,,yang mengkompilasi), siapa lagi kalo bukan mbak Asma Nadia.

Hampir sama dengan buku Catatan HAti Seorang Istri, pengamalaman-pengalaman unik ini menghadirkan keterkejutan-keterkejutan sendiri bagi saya yang membaca. Menghadirkan beribu makna muhasabah dan semakin mengasah sensitivitas terhadap fenomena sosial yang mulai banyak berkembang.

Buku ini mejadi menarik untuk dikaji fenomena sosialnya, mengingat pengalaman yang ditulis oleh para muslimah ini beragam. Mulai dari muslimah yang mencoba untuk bertahan pada jalan lurusnya, muslimah yang menemukan hdayahnya melalui kisahnya, hingga pengalaman muslimah yang notabene sudah ada cap sosial “akhwat aktivis”. Terakhir ini yang bikin saya tergelitik untuk menulis catatan ini.

Tulisan ini saya berikan khusus kepada diri saya sendiri dan juga kepada teman-teman muslimah dimanapun antuna berada. Tapi tidak menutup kemungkina bagi para ikhwan (saudara laki-laki) utuk membacanya sebagai referensi tambahan ketika beriteraksi dengan makhluk bernama akhwat

Semuanya Bermula dari Interaksi Read the rest of this entry

The Sound of Life

Terlalu dini bekata  hebat

Terlalu mudah bangga dengan berjuta impian

keyakinanku yang mulai rapuh…..

dengan apa ku akan membentangkannya kembali,

hingga awan pun dapat mengenalnya sebagai IMPIAN…..

tegar yang pernah kurasa

bagaimana ku kan menancapkannya lagi,

hingga bumi pun bisa memahaminya sebagai KOMITMEN

langkah-langkah kecil

perlahan surut

ragu dalam kenangan yang membuncah

ketika asa satu per satu dimakan usia

ketika lena dengan segala yang ada

padahal tak seorangpun inginkan kau dalam keadaan sempurna

apakah harus..

bagaimana aku….

Tak hanya yakin

Dan tegar

Namun  butuh pembuktian

Kebumen,8 Juni 2010

—-berjuang untuk sebuah asa—-

PALESTINE LOVE STORY-1

Hati yang Mati vs Hati yang Hidup

Penyerangan Israel atas Freedom Flotilla sudah banyak dikabarkan sebelum peristiwa itu benar-benar terjadi. Namun, mungkin kita yang mempunyai hati yang masih normal masih berbaik sangka bahwa Israel tidak akan berbuat senekat itu. Penyerangan kontingen kemanusiaan di laut internasional benar-nbenar pelanggaran hukum dari sisi manapun. Kita lupa bahwa mereka adalah Bangsa Kera yang tak pernah memakai logika. Insting dan kekuatan menjadi alat utama asal makanan empuk mereka dapatkan, asal tidak ada yang menghalanginya untuk mencapai derajat kenyangnya. Alasan-alasan dusta yang  tidak masuk akalpun dilontarkan dalam konferensi pers dan media, baik media local maupun internasional. Dan anehnya, sebagian orang percaya.

Untuk orang-orang yang percaya degan kebohongan Israel ini, saya hanya bisa mengucapkan Innalillaahi wa inna ilaihi roji’un. Mungkin terlalu lama hati mereka mati dengan jasad dan rupa yang tetap menawan. Hatinya sudah mengalami nekrosis kronis sehingga tak mungkin lagi untuk dirawat. Bagaimana mungkin sebuah tragedi kemanusiaan terjadi kembali dan mereka tetap berdiam diri? Sibuk dengan akivitas sehari-hari demi mengumpulkan materi yang sama sekali tidak berarti.

Bagi kita yang menyadari bahwa ini adalah kebrutalan Internasional, saya katakana Segala Puji bagi Allah. Hanya dengan hidayah Allah kita masih bisa merasakan sensitifnya hati kita atas nama kemanusiaan. Apapun motifnya, apapun maksudnya.

Untuk Ridho Illahi-kah? Read the rest of this entry

Kelemahan Kita yang Membuat Barat Menjadi Kuat

oleh Syaikh Muhammad Mahdi ‘Akif

Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam bagi Rasulullah dan orang-orang yang mengikutinya, amma ba’du.

Berbagai peristiwa besar yang menimpa umat Islam mendorong kita untuk selalu merenung tentang kondisi umat Islam yang sebenarnya. Dulu, generasi awal umat ini berpegang teguh pada agamanya. Merekalah umat yang luhur, dimana tentara mereka dapat berdiri tegak dihadapan pasukan musuh yang melampaui batas, yang terbesar pada masa itu.

Saat itu mereka mengatakan, “Sesungguhnya Allah mengutus kami untuk mengeluarkan umat ini dari penyembahan kepada hamba sahaya menuju penyembahan kepada Allah Ta’ala yang satu. Mengeluarkan manusia dari kezaliman berbagai agama kepada keadilan Islam. Membebaskan manusia dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat.”

Begitupun para penggantinya, pernah menyampaikan dengan penuh percaya diri kepada awan yang berhembus di udara: “Turunkanlah hujan sekehendakmu, maka pastilah curahanmu akan menimpaku.” Salah satu pemimpinnya menceburkan kudanya ke lepas pantai, dimana berakhirlah satu hamparan bumi di hadapan matanya, lalu ia berkata: “Demi Allah, seandainya aku tahu bahwa dibelakangmu ada daratan dimana orang mengkafirkan Allah, pastilah aku akan memeranginya di jalan Allah.”

Maka (seolah-olah) bumi dimudahkan untuk mereka, semua kesulitan di bumi ini dimudahkan, dan tegaklah keadilan dimana mereka berada. Dan (saat itu) tidaklah ada orang merdeka yang diperbudak di tanah mereka, juga tidak ada orang yang dizalimi.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (pernah) berdiri untuk jenazah orang Yahudi yang lewat di depan mereka seraya berkata: “Bukankan ia juga manusia?” Dan khalifah mereka Al-Faruq pernah menyuruh seorang Nashrani dari mesir untuk meng-qishash anak dari gubernur mereka seraya berkata, “Sesungguhnya anaknya tidak memukulmu kecuali dengan kekuasaan ayahnya.” Kemudian mengatakan sesuatu hal yang kekal (dalam ingatan) hingga sekarang “ Ya ‘Amr, kapan kamu memperbudak manusia, sedangkan ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

Generasi pun berganti

Hampir berlalu satu atau dua generasi, hingga Islam menjadi sebuah ”butik peradaban” yang memiliki bangunan canggih. Di dalamnya menyatu berbagai khazanah alam. Maka muncullah dari golongan ahli hadits Imam Bukhari, Muslim An-Nîsâbûrî, Abu Dawud as-Sajastanî, dan An-Nasai. Begitu juga Ibnu Hambali Al’Arabi Asy-Syibani. Dan dari golongan ahli tafsir diantaranya Ath-Thabari dan Qurthubi. Begitu juga Ibnu Katsir, Al-Arabi Al-Qurasyiyyi. Kemudian dari ilmu kedokteran dan filsafat diantaranya Ar-Raazi, Ash-Shaby, Ibnu Rusyd Al-Andalusy. Mereka mengangkat syi’ar: “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa” (QS. Al-Hujurat: 13). Mereka juga mempunyai seruan: “Tidak ada keutamaan orang Arab atas orang asing kecuali dengan ketaqwaan.”

Zaman silih berganti, dan setiap sesuatu kalau tidak sempurna pasti ada kekurangan. Faktor kelemahan menghinggapi umat Islam dari sisi internal, juga faktor tekanan yang terus menerus dari sisi eksternal. Dan mulailah masa keguguran martabat Islam dalam diri umat ini dan pimpinannya.

Tentaranya rapuh dan perlawanannya luluh serta musuh-musuh punya pengaruh dari segala sisi. Benarlah apa yang difirmankan Allah Ta’ala: Read the rest of this entry

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 78 other followers