Percayalah,,, berapa kali pun Anda mendapat materi yang sama, akan ada sesuatu yang baru setiap kali Anda mengulangnya. Jangan pernah apatis dulu dengan judul kuliah/ pengajian/ ceramah dengan tema yang sama. Itu berarti Anda sudah menutup pintu hikmah untuk Anda saat itu.
HIV/ AIDS, sejak kuliah sudah sering dapat matei dan seminar yang sama. Ya itu-itu saja. Makanya, ketika bos saya mengamanatkan sebuah SPJ untuk datang ke seminar sehari tentang tema tersebut, rasanya mualeess bukan main. Apalagi saya kadung janjian dengan kelompok ndugem saya untuk pergi ke rumah salah satu anggota kami. Tapi yah,,, apa boleh buat, sudah diamanahi, je. Saya yakinkan pada diri saya bahwa saya akan dapat sesuatu yang baru kai ini, meski malesnya masih bikin bibir manyun.
Saya datang terlambat setengah jam dari jam undangan (habis jaga malam, masih gantuk-ngantuk). Seperti biasa, belum ada tanda-tanda para pejabat datang di ruangan. Berarti masih ada acara menunggu agak lama. Molor. Setengah jam setelah saya datang, barulah acara dimulai. Sambutan-sambutan, sama membosankannya. Tapi ada satu poin yang menarik yang saya dapat. Dalam sepekan terakhir, di rumah sakit tempat saya bekerja ditemukan 5 kasus HIV/ AIDS, ya..dalam sepekan!
Hanya itu yang bisa saa tangkap dari 2 sambutan bapak-bapak pejabat (dasarnya emang ndak ndengerin, sih,,heheh ^^). Sambutan selesai, MC pun memberitahukan bahwa pembicara utama baru sampai kota Salaman, Magelang. (What?? Itu masih 1,5 jam dari sini,,,beuuhh…). Dari awal sudah males, ketiban yg begini, pula. Saya memutuskan untuk pergi nglayap ke bank daripada nunggu pembicara yang lamanya nggak ketulungan.
Sesampainya lagi saya di tempat seminar, ternyata seminar sudah dimulai dengan pembicara kedua yang duluan mengisi. Menjabarkan HIV/ AIDS dai segi psikologis. Hem, dari dulu saia suka cara ibu ini membawa diri di depan forum. Kali ini beliau meminta kami semua- petugas medis- untuk tidak diskriminatif pada pasien HIV/ AIDS yang dirawat di bangsal/ ruang rawat inap. Beliau juga meminta kami untuk menghapuskan stigma buruk tentag HIV/ AIDS. Bahwa tidak semuanya yang menderita penyakit tersebut mempunyai latar belakang yang buruk, seperti suka “jajan”, suka konsumsi narkoba, dan stigma2 lainya yang melekat pada seorang penderita HIV/ AIDS. Saat ini, siapapun bisa tertular virus yang menjadi momok dunia ini. Siapa yang nyangka, hanya gara-gara cukur rambut di barber shop bisa tertular virus HIV/ AIDS? Bisa saja lho, kalau pisau cukurnya habis melukai dan membuat berdarah pelanggan yang terjangkit virus ini, kemudia pisau cukur ini kembali digunaan dan melukai pelanggan lain. Ada darah tempat si virus ngendhon, dan ada luka tempat si cairan darah bisa masuk ke tubuh. Klop dah,,,,, (makanya pren, terutama yang mas-mas, kalau cukur ke tempat cukur, bawalah pisau silet sendiri, Insya Allah lebih aman). Atau bisa jadi karena si penderita dulu habis menerima tranfusi darah karena HB nya rendah. Loh,,kok bisa, darah donor mengandung virus HIV/ AIDS? Ya bisa, karena dalam pemeriksaan HIV/ AIDS ada yang namanya periode jendela. Di mana seseorang yang terkena virus ini, dalam jangka waktu 3 bulan pertama antibodinya tidak akan menggambarkan adanya infeksi HIV/ AIDS pada tubuh. PMI beberapa kali mengakui adanya kebobolan semacam ini. Lho, kan mesakke tho…jadi tidak semuanya pasien HIV/ AIDS itu yang suka begitu-begituan (isi dg stigma Anda sendiri).
Saya pun lebih merasa penasaran ketika ada seorang cowok gahool nan santun maju ke depan, dan dikenalkan oleh ibu psikolog nan cantik sebagai pengidap HIV/ AIDS. Aiih… yang benar? Terus terang, yang kepikiran di kepala saya pertama kali adalah “apa mungkin dia mantar drugers?” uh kan..stigma ini terlalu melekat kuat. (maaf ya mas,,,). Lalu, masnya pun mengenalkan diri:
“Assalaamu’alaikum warahmatulloohi wabarokaatuh. Apa kabar bapak-bapak dan ibu-ibu semua?”
Wesss…. Ini mah gaya trainer motivasi. Pede sekali dia mengawali perkenalan dengan gaya yang fantastis begitu., sangat pecaya diri. Didepan audiens yang sudah pasti usianya seumuran dengan tante, bahkan kakeknya, dan juga di depan para pejabat. Tanpa ragu dia menceriakan awal divonis sebagai penderita HIV/ AIDS positif hingga akhirnya kini ia bisa fighting dan bahkan menjadi konselor sebaya di sebuah klinik HIV/ AIDS di sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta, di samping kesibukannya sebagai seorang mahasiswa.
He has a normal life like us. Kuliah, punya semangat juang yang tinggi, nilai-nilai kuliah yang memuaskan, aktivis kemanusiaan, bekerja paruh waktu di sebuah radio ternama di Jogjakarta. Apa yang beda dari kehidupan mahasiswa aktivis kemanusiaan yang lain? Nyaris tak ada! Kecuali kebiasaannya pukul sebelum pukul 9 malam untuk minum obat antiviral setiap hari tanpa boleh satu pun detik terlewat. Harus tepat! Tidak boleh maju, dan mundur. Karna inilah factor usaha yang tetap menjadikannya ia bugar sampai saat ini, 2 tahun hidup bersama HIV/ AIDS.
“Apakah Anda percaya bahwa saya adalah seseorang dengan HIV/ AIDS? Saya tampak sehat dan bugar, bukan? Bahkan saya yakin saya akan senantiasa bisa hidup layaknya Anda. Saya punya cita-cita, saya punya impian. Dan saya yakin saya bisa. Sewaktu di Kebumen dulu, saya sudah bekerja di sebuah radio. Manajer saya rupanya tahu kalau saya sudah divonis HIV/ AIDS, entah darimana ia tahu. Maka, Ia pun tidak memperpanjang kontrak saya. Saya pikir, baiklah, tak apa. Lihat saja nanti, saya akan lebih berhasil dari sekarang tanpa bantuan Anda. Dan lihatlah, saya benar-benar berhasil membuktikannya. Saya bisa kuliah seperti yang lain, dan saya juga bekerja sebagai penyiar di radio dengan gaji yang jauh lebih besar dari gaji saya di sana!”
Prok..prok..prok..sungguh memukau… dalam satu jam, seminar: Penatalaksanaan HIV/ AIDS di Rumah Sakit berubah menjadi talkshow yang menyentuh hati siapapun yang ada di sana. Haru, campur bangga dan takjub.
“Ibu saya berkata kepada saya: Kamu mau sakit TBC, AIDS, hepatitis, yang penting cuma satu hal buat ibu, kamu tetap anak ibu. Saya bersyukur sekali dengan ini. Bahkan ibu saya sangat mensupport saya untuk kuliah dan hidup normal layaknya teman-teman saya yang lain. Inilah kekuatan yang dibutuhkan oleh seorang penderita HIV/ AIDS. Dukungan sosial. Dukungan sosial akan meningkatkan kekebalan tubuh dan juga memberikan semangat hidup yang luar biasa.”
T.T
Ibu yang luar biasa. Tapi, ngomomg-ngomong, ada yang luar biasa lagi. Salah satu pasien dari 5 pasien yang divonis HIV/ AIDS di RS saya bekerja adalah seorang ibu-ibu. Ibu ini mempunyai anak kembar yang baru saja dilahirkan. Dua anaknya ini sudah di test duluan daripada ibunya (mengingat sudah diketahui bapaknya HIV positif). Dua anak kembarnya hasilnya negative. Ketika diberitahukan kepada si ibu bahwa hasil tes untuknya positif, si ibu ini spontan mengatakan “Alhamdulillah, ndak papa kalau saya yang kena. Yang penting anak saya tidak kena penyakit ini”
See… orang-orang seperti ini layak kita jadikan model bagaimana bersabar dan bersyukur dalam menghadapi situasi yang sangat sangat sangat tidak kita inginkan.
Catatan Khusus:
Tidak semua bayi yang ibunya positif HIV akan mengalami nasib yang sama seperti ibunya. Kemungkinan seperti ini hanya 40% dan bisa dicegah. Pertama, pada masa kehamilan (resiko penularan 10%), pada ibu dg HIV/ AIDS sebaiknya kehamilannya direncanakan, sepeti jumlah CD4 harus di atas angka 400, mengkonsumsi antiviral dg disiplin. Hal ini bisa meminimalisisr penularan virus HIV/ AIDS dari ibu ke anak saat hamil (melalui tali pusat). Kedua, saat melahirkan (resiko penularan 20%), biasanya dokter akan lebh menganjurakn untuk dilakukan SC (Sectio Caesaria) atau bahasa gaulnya sesar J. Jika pun terpaksanya harus dilakukan persalinan normal, sangat diwanti2 agar tidak ada luka pada bayi. Resikonya tinggi banget, ini. Apesnya, kalau pasien gak mau ngaku kalau dia HIV positif. Bukan Cuma baby nya aja yang resiko, tapi petugas medisnya juga bisa terpapar. Lah, darah pasien yang isinya virus thok itu kan muncrat ke mana-mana (Ya Rabb, lindungi kami). Ketiga, saat menyusui (resiko penularan 10%), bisa terjadi penularan dari ibu ke anak apabila si anak menyusu, dan putting susu ibunya lecet. Biasanya ebih disarankan agar anaknya menyusu ke sapi alias make susu formula. Hehe,,, (ini hasil ndengerin semiar kemarin dan belum saya kroscek dengan literature. Kalau ada kesalahan, mohon dikoreksi)




iya,
sekarang terminnya sudah bukan HIV/AIDS namun HIV dan Aids, karena dua-duanya berdiri sendiri dan berbahaya
loh,,iya po mas? saya malah gak ngerti tu (padahal orang kesehatan..weeeekksss…) kemarin pas seminar tulisannya juga masih HIV/ AIDS, ki… (heeemmmm,,hemmm…jd mau cari tau