Monthly Archives: April 2015

Memilih Antara Dua Hati

Herwan Gunawan
QC Indonesia

Memilih memang pekerjaan gampang-gampang susah. Terkadang menjadi mudah ketika ada yg lebih baik dan lebih nyaman untuk dipilih. Akan tetapi, kadang juga sulit ketika kedua pilihan sama baiknya, sama pentingnya, sama-sama berat untuk tidak dipilih.

Memilih istiqomah dalam dakwah itu bukan pilihan yang mengharuskan kita istikhoroh karena dakwah adalah gaya hidup seorang yang di hatinya ada iman, karena dakwah adalah jalan untuk meraih cinta dariNya. Tiada pilihan lain selain beristiqomah di jalan dakwah.

Namun, tetap saja ada pilihan-pilihan yang selalu saja menjadi dilema pada setiap jiwa. Istiqomah yang harus dijawab dengan keteguhan. Apakah harus memilih dakwah ataukah karir, dakwah ataukah kuliah, dakwah ataukah keluarga. Maka ketahuilah, kalaupun ada yg memilih selain jalan dakwah, pastilah itu adalah jalan yang akan masuk pada pusaran kehidupan pribadinya, memanjakan dirinya. Mungkin ia akan puas dengan karirnya, bangga dgn nilai kelulusan kuliahnya, atau tenang dgn gelimang rupiah yg berderet di saldo rekeningnya. Mungkin juga ia akan nyaman dengan kehidupan harmonis keluarga dan sanak familinya.

Namun,
apakah kita tidak ingin masuk kepada pusaran yg lebih besar?
Pusaran yang bukan hanya berkutat pada diri semangat sendiri, sukses sendiri, baik sendiri, harmonis sendiri, lulus sendiri.

Tidakkah memiliki keinginan untuk menyebarkan virus  sukses berjamaah-yang dengan mengantarkannya adalah jalan dakwah?

Di jalanMu aku memilih istiqomah
di jalan Dakwah…

Hamasah wa Istiqomah..

Advertisements

Emoticon Penipu Hati

-Catatan Harian Herwan Gunawan-

Kadang kita seolah simpati atau merasa sedih. Senyum yang menjadi ibadah dalam syariat hanya tergambar dengan emoticon. Teknologi kadang membuat hidup menjadi instan. Senyum,menangis, tertawa,marah, hampir semua ekpresi manusia hanya terwakili oleh emoticon. Boleh jadi ketika ada nasihat yang menggugah dan merubah,  emoticon-lah yang menangis. Akan tetapi, mungkin sesungguhnya hati tidak menangis karena sulit di tembus cahaya Allah. Senyum yang merupakan ekpresi kebahagiaan bisa jadi hanyalah topeng jika yang tersenyum hanya emoticon, bukan hati yg memancarkan wajah yg sumringah bahagia.

Semua ekpresi yg berasal dari hati pasti akan sampai ke hati.

Sebaliknya jika hanya emoticon yg hanya berfungsi sebagai penghias tulisan, bukan simbol dr lukisan hati yg tulus, itu akan tertolak oleh tabir qolbu manusia.

Hati hanya bisa di sentuh oleh hati.

Semoga bermanfaat

Merusak Generasi dengan Serius

Oleh Maulina Nugraheni

Go Dong iSPS® ke-50

Sejatinya saya agak bosan mengulang-ulang pembahasan ini: pentingnya pemuda sebagai asset bangsa, pasang badan untuk pembinaan kepemudaan, dll dll. Akan tetapi, mau bgaimana lagi. Tema-tema seputar itu selalu menggelitik untuk saya tuliskan. Semoga ada satu-dua hal yg baru meskipun tiga puluh sampai lima puluh lainnya adalah hal yang sudah pernah saya tulis berulang kali. Hahaha… #ups

Inspirasi tulisan kali ini berawal dari pembicaraan khas ala ibu-ibu arisan, sore ini. Maraknya pemberitaan ISIS dan respon masyarakat yang juga mulai marak menarik untuk dibahas. Di kota saya, Kebumen, sebuah kota kecil di Jateng Selatan, hampir di setiap jalan protokol ramai dengan tulisan “Kami warga Kebumen menolak ISIS”. Heran deh, kayak ada yg nawarin aja, kok sampe nolak-nolak gituh. Hihi…

Isu penolakan ISIS oleh masyarakat ini bagus karena masyarakat waspada. Akan tetapi, di sisi lain, ibu-ibu arisan pun kasak kusuk khawatir karena mulai banyak generalisasi terhadap isu ISIS.
Opo-opo dianggep ISIS, ngaji sithik, radikal. Rajin ke masjid dicap pengikut ISIS, baca Al Quran sambil nunggu kereta,diintrogasi macem-macem. Aduhai ISIS, marai sumuk tenan, sampeyan.

Thus, sadar or not, kata ibu-ibu di arisan, masyarakat kita sedang dididik untuk alergi dengan pengajian, mesjid, dan ngaji Qur’an. Orangtua mulai apatis jika anaknya ikut kajian ini itu. Bukannya nge cek dulu tapi langsung main larang.
Beberapa juga mulai khawatir jika anaknya jadi rajin ke masjid, memelihara jenggot, atau bagi anak gadisnya, tampak rapi dalam berhijab dan memakai kaos kaki.

Ini kejadian sungguhan. Saya punya teman perempuan yang dimaki-maki guru nya karena dia memakai kaos kaki ketika ke rumahnya. Dituduh ISIS, radikal, sesat, dsb. Apalah salah kaos kaki dituduh begitu? Ckckck kasian…

Sebaliknya, orangtua justru nyaman-nyaman saja kalau anak-anaknya malam mingguan dijemput atau didatangi pacarnya, makai jilbab gaooll nlekak nlekuk, atau rajin shopping ke mall dan perawatan kecantikan.

Iyo-iyo, tentunya yang baca Go Dong adalah orang-orang yang gak gitu juga keleess.. Aye cuman mau sampaikan kekhawatiran perspektif ibu-ibu arisan. Bisa dianggap serius ataupun tidak serius. Tapi yang jelas, nuansa ini sudah mulai terbangun di negeri kita tercinta. Mungkin bukan kita, tapi masyarakat sekitar kita.

Jadi ingat kuliah singkat di Teras Kota Tangsel bersama calon doktor psikologi pendidikan, teman sekaligus saingan saya yang asli Jogja, haha, Isnan Hidayat namanya, dia bercerita tentang teori Tripusat Pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara. Isinya adalah bahwa pendidikan bagi seorang anak harus melibatkan 3 pusat pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan lingkungan.

Dalam keterangannya yang saya tangkap (kadang saya agak lola nangkep sesuatu yg baru, jd klo salah tangkap, mohon carikan tangkapan lain yg benar), jika salah satu dari tiga elemen tersebut: keluarga, sekolah, atau lingkungan tak berfungsi, maka kualitas pendidikan anak2 kita juga dipertanyakan bin dikhawatirkan.

Pendidikan di keluarga saat ini mulai digantikan dengan baby sitter, les, dan bimbel. Institusi bernama sekolah hingga detik ini belum banyak yang bisa menjawab tantangan pendidikan itu sendiri (opo wes, tantangannya?). Di pihak lain, lingkungan juga sedang dirusak pemahamannya dengan sesuatu yang datang tiba2 dan seolah mengancam segala-galanya, dibuat panik, dan tak ada penyeimbang. Padahal sebelumnya, lingkungan tempat generasi ini tumbuh juga sudah sakit kronis.

Lalu, mau jadi apa anak-anak kita? (jadi orang dong, gak mungkin nyemot)

Bagi kami, ibu-ibu arisan, hal seperti ini sudah merupakan upaya untuk merusak generasi dengan serius, teramat serius. Serius, sistematis, tapi soft.
Maka apalah arti kegelisahan para ibu-ibu yang rajin datang arisan. Bisa jadi kami para ibu akan siap siaga menjaga ketahanan keluarga, menjaga anak-anak kami. Tapi generasi-generasi emas bangsa ini, butuh dari sekedar keluarga.
Maka plis, jika kami para ibu siap pasang badan untuk menyelamatkan anak-anak negeri, kami juga mengajak semuanya berpikir lebih jauh tentang nasib anak-anak kita ke depan.
Kita musti lebih serius lagi melakukan pembinaan-pembinaan positif untuk anak-anak kita. Biarlah mereka merusak generasi dengan serius, kita hadapi dengan bekerja lebih serius lagi dan tawakkal ‘alallah.
Demi anak-anak kita, demi anak cucu kita nanti.

iSPS®
10 April 2015

Pasang Badan: Membangun Sinergi Pembinaan -Catatan LSC #3 Kebumen-

@Maulina_N
Master Coach Cakep Indonesia

Anda tau apa yg sering bikin para ortu gak ngijinin anak2nya ikut kegiatan yg bukan dr sekolah?
Bukan problem di kegiatannya yang gak menarik atau meragukan. Selama kegiatannya bagus untuk pengembangan karakter anak, orangtua biasanya udah klik duluan.
Lalu apa problemnya?

Komunikasi.

Entah mengapa saya selalu yakin bahwa orang tua itu paham mana kegiatan yg kredibel dan kagak kredibel. Mana yg serius buat pengembangan karakter, mana yang main2.
Kasus yang saya hadapi di LSC #3 ini-komunikasi ke ortu-sebenernya bukan yang pertama. Ini kesekian kali. Tapi menjadi spesial karen saya musti turun langsung ke ortu calon peserta, mempresentasikan lsc secara gamblang, dan mengenalkan diri sebagai pedamping peserta dari Kebumen ke Lembang.

Jika ada yang belum tau LSC, Leadership Survival Camp, kegiatan ini adalah camp untuk melatih leadership dengan langsung menyentuhkan peserta dengan alam. Tapi kata kuncinya bukan di camp maupun leadershipnya (nah loh), akan tetapi pada kata SURVIVAL.
Peserta melakukan survival bahkan sejak pertama kali mendaftar. Ini part yang paling paling paling saya suka. Mulai dari ijin ke orangtua (wajib), ijin ke sekolah, mencari dana untuk perjalanan dan registrasi, hingga mengurus transportasi. Bagi yang lokasinya jauh seperti Kebumen, Malang, Lampung, bakan Sulawesi dan NTT (peserta yang pernah gabung di LSC),  jauhnya jarak juga memberikan efek lain terhadap perijinan dan pendanaan.

When there is a will, there is a way.
LSC membuktikan.
Tidak semua anak akan menyanggupi hadir di LSC dan segala keribetan dan keributan persiapannya.
Maka, anak2 yang menyambut seruan ini secara langsung, mereka lolos survival tahap pertama. Mereka tahu konsekuensi survival di tahap selanjutnya.

Survival selanjutnya adalah meminta izin ortu sembari juga menjalankan fundrising untuk membiayai LSC secara mandiri. Kami di Neoramdhanz Indonesia, Kebumen senantiasa memback up penuh pelajar2 yang menyatakan ingin ikut LSC. Kami coaching berkala untuk perizinan dan pendanaan, membantu mereka membuat planning pemasukan dana dan mengevaluasi pecapaian.

Pada anak-anak yang emang punya problem komunikasi, ijin ortu bisa jadi kendala terbesar. Maka, seringkali kami bantu dengan bermain peran cara mengkomunikasikan  apa yang mereka inginkan (ikut lsc) ke orangtua mereka. Orangtua yang sudah kenal dengan kami yang sehari-hari membersamai mereka di komunitas, biasanya akan langsung acc meskipun Sang Anak terbata-bata menjelaskan LSC. Tinggal sebut “diajak mbak ….” maka semuanya beres 😀

LSC kali ini kami dapatkan anak yang masih sulit mengkomunikasian ide dan orangtua yang kritis. Akhirnya, selain menghadap waka kesiswaan sekolah mereka, kami juga mengunjungi orangtua mereka. Waka kesiswaan dan orangtua mereka yang meminta langsung kami untuk bertatap muka. Maybe they wants to know siapa kami atau sekedar memastikan semua aman.

Adakah yang mengkeret atau kalau ada kepsek atau ortu binaan yang memanggil atau meminta Anda untuk menemui mereka secara langsung?

Saya pernah takut, taaakuuutty sekali ketika seorang Ayah dari binaan, selepas binaan kami pulang latihan nasyid, tiba2 menelepon dan dengan dingin berkata
“Mbak maul, ba’da maghrib ke rumah ya. Saya ingin ketemu”
Datar, tanpa ekspresi. Dinginnya merasuk meski jarak rumah kami 1,5 km.
Selepas sholat maghrib, berkali-kali rabithah saya lantunkan untuk Sang Bapak sembari menepis segala prasangka. Di perjalanan, badan saya menggigil, bukan karena dingin, tapi karena takut bukan main. Sang Bapak terkenal galak pake beuuuttt…. Tapi saya tau, saya musti hadapi ini tanpa bisa mundur. Saya harus bertanggungjawab jika dianggap bersalah. P.A.S.R.A.H.
Sesampai d rumahnya, Sang Bapak menyambut saya ramah tapi dingin (nahloh).
Ibu dan anaknya dipanggil. Saya siap diadili.
Dan beberapa saat kemudian tangis Sang Bapak memecahkan kekakuan. Naah loh, saya ikut mrebes mili tapi juga linglung. Iki cerita kok jadi begini.
Di ending, Sang Bapak berkata sesuatu yang mmembuat dada saya sesak (meski lebih sesak klo pas asma kumat :P)
“Mbak, panjenengan sudah kami anggap sebagai orangtua kedua anak kami, —beep–waktu seakan berhenti berputar–ada yang mendesak jatuh di pelupuk mata–da aku mah apa atuhhh– Maka saya pasrahkan setelah ini, silakan anak saya dibimbing dan dinasihati”
Perjalanan pulang, mewek bombaaayyyy….. 😭😭😭

Selepas itulah saya yakin, justru setiap kali orangtua binaan kita memanggil kita secara khusus, maka bukan untuk komplain, tapi itu tanda bahwa mereka butuh sinergi dengan kita. Sinergi dalam membina anak-anak biologis mereka. Bahkan jikalau bisa, temui orangtua binaan2 segera dan jangan nunggu dipanggil. Perkenalkan diri baik-baik, dan komunikasikan visi pembinaan karakter dari kita. In syaa allah ortu pada seneng anak2nya ada yg ngerawat di luar sana.

Saya justru senang kalau anak2 meminta saya bertemu dg guru atau ortu mereka. Inilah kesempatan kita untuk bisa sinergi membangun tunas bangsa.
Sediakan waktunya, sesempit apapun waktu yang kita punya.

Malam ini, menjelang jaga malam, saya sempatkan menemui orangtua salah satu calon peserta LSC yang ingin bertemu dengan saya selaku pendamping mereka. Perasaan malas, ingin cancel, tetap ada. Tapi always gak tega kalo inget binar mata anak2 yg mharap saya ketemu ortu mereka.
Pukul 20.30 saya sampai drumah mereka. Begitu ibunya keluar dan bertatap muka, saya dan ibunya sama2 tertawa, bahkan saya sempat lari balik keluar pagar. Bagaimana tidak? Kami rekan di sebuah satuan kerja dan sering bertemu, cuma sama2 lupa namanya. Hahaha….

Segalanya lancar… Kami satu persepsi.. Banyak testimoni positif sejak anaknya ngotot ingin ikut LSC dan seperti biasa, kalimat yang selalu membuat saya berlinang air mata tapi juga sekaligus menguatkan.
“Kami titipkan anak kami, mohon dibimbing dan dibina. Semoga anak kami bisa jauh lebih baik”

Ah jadi rindu anak-anak komunitas yang ortunya rutin kami ajak bersinergi. Memanggil Sumbul, Arif, Iqbal, Arsyad, Fai, Didin, Alan, Bagus, Febrian, Munif, Subhan, Mujib, Zakky, Afif, Wahid, Ilham, Reza, dan Mega. Salam takzim dan titip rindu untuk Ayahanda dan Ibunda yah 🙂

Siap Pasang Badan, Membangun Sinergi Pembinaan Tunas Bangsa