Blog Archives

It’s Just About How To Manage Falling In Love -Part 2- End

love 4

Jumpa lagi, alhamdulillah,,,

Masuk ke tips ke 3 sampai finish ya.. ^^

3. Allah dan Al Qur’an

“Paling ya baca Al Qur’an, mbak”

Masya Allah, itu jawaban salah seorang narasumber yang masih ABG saat saya tanya, apa yang dia lakukan saat galau. Sobat semua, hanya orang-orang yang ada yakin padaNya sajalah yang akan mendapat hidayah seperti ini. Hayo,, kalau lagi galau lebih pada milih baca Al Qur’an atau malah ap det status galau? Hihi…. Nohok banget buat penulisnya nih ^^’

Astaghfirullaah.. ;(

Narasumber lain mengatakan memang sakit nahan, bahkan orang sekuat apapun bisa nangis nahan yang beginian-merahjambu-red-(duh, kasian ya). Akan tetapi, jika semua dicurhatkan ke Maha Pemilik Cinta, seberat apapun, pasti bisa dilewati, Insya Allah.

Coba saja kalau lagi galau dg hal yang beginian, habis sholat, atau sengajakan berdoa khusus habis tahajud untuk yang satu ini,

“ Ya Allah, Engkau telah menganugerahkan rasa cinta yang begitu indah. Aku bisa merasa ada bunga yang berkembang. Namun Ya Allah, aku tahu ini belum masanya bagiku. Maka, kukembalikan segenap rasa ini padaMu. Engkau Yang Maha Mencinta. Kukembalikan rasa ini padaMu.”

Wuuzz… Insya Allah, dijamin, rasanya plooooong…. meskipun rasa itu masih ada, tapi lega karena sudah diletakkan di atas ridho-Nya. Kita tidak menolak ataupun memaksanya untuk pergi tapi menyandarkan semua kepada ridhoNya. So sweet yah?

4. Hindari: Menyendiri, Musik Galau/ Bertema Cinta

Orang jatuh cinta memang mirip orang depresi. Maunya sendiri. Mikirin si doi, senyum-senyum sendiri, berandai-andai, wah bikin jalannya syetan mulus masuk ke dalam diri. Alih-alih menyendiri dan berangan-angan yang tak pasti, baurkan bersama teman-teman. Dengan beraktivitas bersama teman-teman, makan energi yang tak perlu pun bisa dialokasikan dengan jauh lebih baik.

Musik galau dan tema cinta memperberat suasana. So pasti! Mau musik romantis islami ataupun musik romance umum, pokokmen tutup kamus untuk yang satu ini pas lagi jatuh hati. Mendingan dengerin lagu yang bikin semangat, misal Siapa Bilang nya Neoramdhanz. Hihihi… atau Mars Pemuda Islamnya Izzatul Islam. Jedhag-jedhug cetar membahana tuh 😀

Lebih heroik lagi kalo nyetel lagu-lagu perjuangan untuk Palestina. Bisa malu sendiri tuh, saudara-saudara kita di sana lagi berantem sama rudal dan siap menjemput syahid, eh kita yang di sini kok melow galau gak karuan -”’

5. Sangat Disarankan: Perbanyak aktivitas harian dan fokus

Seperti ilustrasi di awal tulisan ini, sudah ada yang membuktikan bahwa aktivitas yang buanyak bisa membuat kita melupakan “rasa itu”, bahkan nggak akan sempat memikirkan walaupun hanya sebersit saja. Saya suka sekali dengan quote rekan saya yang satu ini:

“Ibaratnya kalo jatuh cinta itu selembar kertas yg menghampiri, ia sudah tertumpuk-tumpuk oleh seabreg buku, diktat, PR2, tugas2.. Ga keliatan, bahkan lupa deh kalo ada selembar kertas itu”

Kalau tugas masih kurang, masih ada organisasi kan? Amanah organisasi yang mana yang belum beres? Beresin! 😛

Cari ide-ide kreatif dan bikin berbagai maca kegiatan yang bermanfaat. Oh, nggak ikut organisasi? Ya, salah sendiri, sih. Tapi tenang, masih ada Neoramdhanz Community dengan seabrek agenda yang banyak diantaranya belum tuntas,kok. Mau? Hihihi… tetep promo, dong 😛

Sudah banyak orang yang membuktikan bahwa dengan beraktivitas yang bermanfaat, kita akan terhindar dari virus merah jambu. Nah, kalau pas lagi aktivitas trus jatuh cintrong sama partner sendiri? Istilah populernya CBSA.. Cinta Bersemi Sesama Aktipis. Hehehe…

Hem,,, ya kasihan sih sebenernya. Tapi ya wajar, “witing tresno jalaran seko kulina lan ora ono liyo”. Heheheh… berarti,, bisa dijamin jatuh cinta sama partner tuh cuma SEMU aja, alias SEMENTARA. Ntar juga kalo udah gak jadi partner dan gak pernah komunikasi “rasa itu” ilang sendiri. Kalau kita mau. Saya ulangi ya, kalau kita MAU.

Kalau terjadi CBSA, juga ada yang harus dievaluasi dari NIAT kita. Bahwa niat adalah sesuatu yang harus dijaga sejak sebelum, saat beraktivitas, sesudahnya, dan setelah-setelahnya sampai kita mati. Bisa jadi di awal benar, tapi ketika partner kita memuji hasil kerja kita, mulai deh tumbuh bunga, nah… alih-alih bekerja karena Allah, jangan-jangan kinerja kita bagis karena si dia. Waduh… #astaghfirullaah…

Selain niat, komunikasi dan adab pergaulan juga harus dievaluasi. “Mergo ra ono liyo” bisa didefinisikan juga dengan senasib sepenanggungan. Misal yang rawan nih, antara ketua dan sekretaris (kalo beda gender), juga bisa antara koordinator putra dan koordinator putri. Model partnership yang begini kalau adab pergaulan, komunikasinya, tidak terjaga, ya.. hadirlah CBSA. Orang yang terjaga saja bisa kena kok. Trus? Ya.. berpeganglah dan berdoa saja sama Yang Punya Cinta 😉

Insya Allah kalau orientasi dan niat kita terjaga, hati kita juga akan senantiasa lurus. CBSA mah cuman numpang permisi aja, gak berani mendekat. Hehe…

love 3

6. Sikap Mental: Tidak Usah Mengasihani Diri yang Akan Berubah menjadi Akar Kemakluman yang Meraja

“Jadi mbak, kadang orang di posisi galau itu merasa dia itu korban. Akhirnya ya dia memaklumkan segalanya. Dan dia mulai melakukan hal-hal yang udah dia tolerir. Dan teruusss berkembang.”

Ada yang bisa menangkap statement ini?

Saya sih merasa wow dan tertohok pake banget. Ya, kondisi galau memang seringkali (gak hanya kadang) membuat kita merasa jadi korban dan ya sebagai korban, wajar dong kalau bikin kompensasi. Misal nih, “rasa itu” lagi berada di puncak. Denger namanya disebut aja sama orang lain, kita merasa yang dipanggil. Telinga langsung berdiri. Antena juga jadi sensitif (nggak usah berpikir, antena kita letaknya di mana, karena gak akan ketemu. Saya menyebutnya antena cinta.wkwkwk,,,,meksoooo…..). Demi mendengar namanya disebut dan dibicarakan, mendadak kita ingin tau apa yang terjadi. Alih-alih harusnya nutup kuping kalo ada orang ghibah, ini malah kebalikannya. Merasa si dia harus dibela, maka meluncurlah sms, ingin tau kabarnya. Mungkin sesaat nurani nyeletuk: “Ah, ngapain sih sms, kamu kan nggak ada urusan. Ini bukan wilayahmu. Urusan masing-masing”

Namun, sang nafsu pun menyela: “Eh nggak bisa gitu dong. Kita kan sodara seiman. Apalagi dia partnerku. Kalo dia bermasalah dan ujung-ujungnya kerjaan kita nggak beres, siapa juga yang repot?”

Nah! Mungkin itu adalah toleransi di titik awal,, sampai toleransi-toleransi berikutnya adalah berupa curhat, minta nasihat, saling menasihati, saling menguatkan, tanpa lihat jam malam dan isi sms yang ternyata nama dia semua di inbox. Dalihnya masih sama: agar amanah organisasi berjalan sesuai target. Mulanya sms, lama-lama cuman berduaan di suatu tempat, makan bareng, mungkin. Stop, kalo udah nyampe ke sana, ampun deh. Menenggelamkan diri sendiri. Jujur, orang yg jatuh cinta itu menikmati setiap kebersamaan dengan si dia kan? Meski hanya ngobrol lewat sms atau bercanda lewat twitter?

Astaghfirullaah…

 

Nah, teman, itulah beberapa tips mengelola hati di kala kena si merah jambu. Tips-tips tadi saya rangkum dari hasil ngobrol via sms dengan rekan-rekan saya yang masih remaja.Meski begitu, tips-tips nya dahsyat, paling tidak menurut saya pribadi sih. Sekali lagi, dalam hal ini, KEMAUAN untuk berada dalam fitrah yang lurus adalah MODAL DASAR.

Jatuh cinta adalah fitrah, nikmati prosesnya, dan belajarlah banyak darinya, hindarkan diri dari terjerumus karenanya 😉

Keep The Spirit of Learning!

 

Kebumen 3-4 Desember 2012

Terimakasih kepada dua rekan yang menginspirasi tulisan ini, dan dua rekan yang menjadi narasumber tulisan ini. Sungguh, kalian adalah guru bagi saya. Syukron Jazakumullah.. Semoga kita bisa reunian di surga Allah, ya. Aamiin…

Advertisements

It’s Just About How To Manage Falling In Love -Part 1-

love 1Seorang adik bertanya kepadakau tentang jatuh cinta.

“Apa mbak sekarang merasakan jatuh cinta, bagaimana mengelolanya?”

Wow,, I almost don’t think about falling in love and his friends.

Aku menggeleng..

“Hm,no,, gak ada feeling itu sekarang”

“Really? Masa sih mbak? Tidak pada seorangpun? Ada perasaan suka, atau apaa gitu?” Tanyanya penasaran.

Heheh, adek yang satu ini tampak exciting banget. Mungkin pikir dia, bagaimana mungkin seseorang hidup tanpa ada warna suka kepada orang lain.

“ Iya, bukan lagi masanya bagiku buat punya perasaan aneh2 macam gitu lah.Fasenya udah lewat.hehe”

Dia nampak tertegun dan bertanya lagi,

“Tidak seorangpun?”

“Hehe,, iya. Tak seorangpun” Jawabku mantap. Dia masih tampak tidak puas dengan jawabanku.

“Ternyata memang kalau kita sibuk dengan aktivitas, mikirin begituan tuh nggak sem

pet, ya. Tapi, sedikit aja kita longgar waktunya, udah deh, pikirannya pasti jadi macem-macem.”

Kali ini, seorang adik yang daritadi hanya diam,  berbicara. Yakin sekali. Aku yang sekarang tertegun. Ah, begitu cepat mereka memaknai setiap proses pembelajaran yang selama ini diterima.

Aku mengangguk penuh semangat.

“Tul, itu kuncinya. Kalau kita masih kepikiran dengan virus merah jambu dan yang sejenis, perlu dipertanyakan lagi. Insya Allah sangat berkorelasi dengan kondisi kitanya sendiri”

Dan kita pun kembali ke agenda meeting  yang sedikit melenceng karena pertanyaan sampingan. 🙂

_Obrolan ringan di sebuah ruangan_

———-##———–

Saya tertarik untuk lagi-lagi membahas lagi (saking seringnya) tema “virus merah jambu” karena tema ini tuh unik, dan hampiir takpadam meski hujan, meski kekeringan, meski paceklik. Hihi.. ngobrol-ngobrol paceklik, kayaknya efek cinta semu lagi keliatan di musim paceklik ini. Banyak KDRT yang korbannya mampir ke rumah sakit. Hem,, baiklah,, sedikit melenceng nih.

Terus terang saya lagi penasaran sama beberapa pelajar (selanjutnya, sebut saja ABG) yang saya kenal. Dari awal kenal sampe sekarang,belum ada pernah kata dia bilang galau karena sedang jatuh cinta. Pernah pun, hanya bilang “Ya biasa lah, mbak. Gitu-gitu. Tapi Insya Allah bisa diatur,kok.”

Ini langka! Sungguh langka! Saya cari apakah dia punya TTM an, alias temen wan

ita yang deket, itu juga nggak. Apa ya kira-kira yang bisa jadi penyebabnya? Padahal dia masih remaja, kawan-kawannya yang seumuran pun kebanyakan galau setengah meriang kalo dapat virus ini atau yang lain menikmati TTM annya dengan lawan jenis.  Artinya sebenarnya bisa jadi “wajar” kalau problem itu ada. Cuma, jawabannya yang sangat elegan itu lho!

“Tapi insya Allah bisa diatur, kok.”

Hemm…

Rata-rata orang yang lagi galau jatuh cinta, secara sadar maupun tidak, akan meluapkan kegalauannya lewat apapun, sehingga orang-orang di sekelilingnya sadar bahwa ia sedang galau-jatuh cintrong.

Saya pun akhirnya menyambangi beberapa kenalan remaja yang menurut saya, dalam masalah percintaan, mereka paham benar bagaimana cara mengelolanya. Kegalauan dan rasa yang bergejolak  diatur dengan sangat rapi dan apik sehingga orang lain pun tak sadar akan gelisahnya.

Penasaran juga kah? Hem, sebelum membaca tips-tips dari teman-teman kita ini, ada kalimat kunci yang harus dipegang oleh sahabat semua.

“Meski beribu berjuta nasihat tentang cinta diungkap, semuanya akan jadi sia-sia jika kita sendiri tak mau  mempraktikannya atau masih mencari beribu dan berjuta alasan untuk tidak melakukannya.”

Sepakat dengan  kalimat kunci di atas ya?

love 2

Oke, apa saja rahasia mereka?

Jreng…jreng….

  1. Memahami benar, episode cinta seperti apa yang seharusnya dijalani dengan indah dan penuh berkah

Kawan, paham adalah salah satu modal yang sangat penting untuk kita bisa melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Apakah sesuai dengan harapan Allah, ataukah hanya mengikuti hawa nafsu.

Salah seorang narasumber berkata pada saya bahwa dia menggunakan buku-buku karya Ustadz Salim A Fillah sebagai rujukan menyelesaikan permasalahannya ini. Pada belum tau ust. Salim A Fillah? Ckckck… pada ke mana aja si? Coba deh cari bukunya: Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Agar Bidadari Cemburu Padamu, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, atau Dalam Dekapan Ukhuwah.

Salah seorang kawan saya berkata,

“Yang jelas sih rasa cinta kepada lawan jenis selagi itu tak dibingkai dengan bingkai syar’i (nikah) itu cuma perasaan semu yang kalau kita mau itu mudah banget dihilangkan. Ingat ya, kalau kita MAU”.

Artinya, cinta kepada lawan jenis hanya sah dan halal jika dan hanya jika kita menikah. Kalau belum menikah tapi jatuh cinta gitu? Ya itu sih fitrah, wajar, nah makanya kita bahas di artikel ini 😉

Hem, pada gak sepakat dengan statemen ini? Baiklah, berarti Anda harus membaca buanyak buku-buku yang terkait dengan manajemen cinta, cinta kepada Allah, atau buku-buku Salim A Fillah di atas. Nggak mau juga? Hem, baiklah, bisa inbox saya dan kita ngobrol sepuasnya atau,, kopi darat dan talk about this, jika memungkinkan 😀

Semoga Allah melimpahkan rahmatNya untuk kita semua.

2. Menceritakan perasaan pada orang yang tepat atau menyimpannya rapat-rapat (yang kedua lebih rekomended)

Siapa orang yang tepat untuk kita bercerita? Tidak sembarang orang. Pastikan dia bisa menyimpannya rapat-rapat. Saya agak ragu dengan teman sebaya, kecuali dia memang terkenal dalam hal bisa menjaga rahasia. Kadang kalo teman sebaya, secara tidak sadar malah ikut ngomporin, sih 😛

Selain bisa menjaga rahasia, juga pastikan dia bisa memberikan nasihat terbaiknya untuk kita. Nasihat terbaik ini bukannya nasihat yang malah mojokin kita buat nembak loh ya. Dia ini juga harus yang paham dengan poin nomer pertama. Alih-alih pengen jaga sikap, malah disuruh ngomong ke si dia. Ya berabe. Hihi…

Pilihan menyimpan “rasa itu” rapat-rapat adalah pilihan yang lebih direkomendasikan. Simpan rasa cinta kepada lawan jenis hingga syaithon pun tidak tahu. Ini juga yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra. Apa? Belum tahu kisahnya? Cari sendiri ya ^^v

Rugi kalau tidak tahu kisah cinta yang mulia di hadapan Allah.

Beberapa narasumber saya berkata, dia tidak pernah menceritakan perasaannya pada siapapun, sampai ketika itu sudah lewat. Bahkan hanya saya yang tau karena pengalamannya akan saya tulis. Wah,,luar biasa. Nahan banget itu pasti 😀

#Nah, sampe nomer 2 dulu biar bacanya gak  tengeng.. hehe… Insya Allah lanjut di Part 2 ya..

Cinta dan Diam

mencintai dalam diam
ah tak semudah itu, kupikir
tapi itu jauh lebih baik
daripada mengumbarnya
kepada yang sama sekali bukan hak nya

dalam diam mencinta
apa iya?
cinta yang bagaimana?
cinta yang kau tersipu jika mendengar namanya?
cinta yang membuatmu memilih jalan memutar jika berpapasan dengannya?
apa iya itu cinta?

diam dalam mencinta
semoga bukan sekedar retorika
karena mulut ini bekerja lebih cepat
daripada kemampuan berpikirnya
karena bahasa tubuh yang dimiliki
lebih membekas jauh ke dasar hati
karena mata tak akan mengelak
setiap adanya jumpa

sampaikan cintamu hanya pada-Nya
sampaikan salammu melalui pintu-pintu malamNya
berikan jiwamu
untuk satu cinta
DIA…